
Jakarta, toBagoes.com – Anak muda multitalenta asal Minangkabau yang berdomisili di Jakarta, Dedi Prima Maha Rajo Dirajo, menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah sikap pasif, melainkan kemampuan mempertahankan diri, memproyeksikan kekuatan yang kredibel, dan mencegah agresi.
Menurutnya, pandangan ini sejalan dengan pemikiran Carl von Clausewitz yang menempatkan militer sebagai instrumen politik vital.
“Kekuatan pertahanan yang terkelola dengan baik adalah kunci untuk mencapai tujuan politik yang lebih besar,” ujarnya Dedi Prima pria yang akrab disapa DP ini kepada awak media di Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Dedi menilai program modernisasi pertahanan seperti Perisai Trisula Nusantara meliputi akuisisi jet tempur Rafale dan kapal selam Scorpene adalah langkah strategis untuk memastikan Indonesia memiliki kapabilitas mumpuni di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.
“Ini investasi jangka panjang demi perdamaian yang lahir dari kekuatan, bukan dari kelemahan,” tegasnya.
Meski menganut realisme tegas, Dedi menyebut Presiden Prabowo tetap menekankan diplomasi “bebas dan aktif” serta prinsip “seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak.”
Pendekatan ini, lanjutnya, selaras dengan pemikiran Hans J. Morgenthau yang bertujuan memaksimalkan otonomi strategis Indonesia di panggung global.
Ia menambahkan, di era multipolar, kemampuan menyeimbangkan hubungan dengan berbagai kekuatan besar menjadi kunci menjaga kedaulatan dan memajukan kepentingan nasional.
“Diplomasi eksistensial memastikan suara Indonesia terdengar dan dihormati di setiap forum dunia,” ujarnya.
Dedi juga menegaskan pesan Presiden Prabowo bahwa kemerdekaan diraih melalui pengorbanan besar seluruh rakyat, terutama yang paling rentan.
Karena itu, kemerdekaan mengandung tanggung jawab moral untuk menyejahterakan rakyat, memberantas korupsi, dan menghapus ketidakadilan ekonomi.
“Visi Indonesia Emas 2045 adalah janji untuk melunasi utang sejarah kepada para pejuang dengan membangun bangsa yang makmur, berkeadilan, dan dihormati dunia,” kata Dedi.
Menjelang 80 tahun kemerdekaan, ia menutup dengan ajakan: “Indonesia harus membangun kekuatan nasional yang komprehensif militer, ekonomi, dan diplomatik untuk berdiri tegak sebagai bangsa berdaulat penuh. Ini panggilan untuk kerja keras, persatuan, dan keberanian menghadapi tantangan abad ke-21.”







