Surakarta, toBagoes.com – Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan keluwesan politik dan gaya komunikasinya yang khas saat menghadiri penutupan Kongres I Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Solo, pada Minggu (20/7/2025).
Dalam suasana yang penuh semangat, Prabowo membacakan tiga pantun untuk Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI, dengan satu pantun terakhir yang secara khusus menyinggung gajah ikon baru partai yang diketuai putra bungsu Presiden Joko Widodo itu.
Pantun-pantun Prabowo tak hanya sekadar hiburan atau basa-basi budaya. Justru di balik irama dan rima, terselip pesan simbolik dan dukungan politis yang eksplisit.
Dari harapan agar Kaesang berbakti kepada negeri, ajakan memajukan demokrasi, hingga peneguhan makna gajah sebagai simbol kekuatan dan rasa.
Gajah sebagai Simbol Politik Baru PSI
Pada kongres itu, PSI s.ecara resmi mengubah nama dan lambang Partai : dari Partai Solidaritas Indonesia menjadi Partai Super Terbuka (Tbk.), dan dari bunga mawar menjadi gajah merah-hitam. Ini adalah rebranding total bukan hanya kosmetik, tapi juga reposisi citra dan strategi komunikasi.
Mengapa gajah? Prabowo menjelaskan sendiri:
“Betapa, salah satu binatang yang sangat saya sayang adalah gajah.”
Lebih dari sekadar kesukaan pribadi, gajah adalah simbol klasik dalam politik: besar, kuat, sabar, tapi siap menghancurkan jika diganggu.
Dengan menjadikan gajah sebagai lambang partai, PSI seolah sedang menyelaraskan diri dengan kekuatan dan kehendak Presiden yakni Prabowo sendiri.
Kaesang, PSI, dan Kedekatan dengan Kekuasaan
Kehadiran tokoh-tokoh elite di acara itu Wapres Gibran, Presiden ke-7 Jokowi, para menteri Kabinet Merah Putih mempertegas posisi PSI bukan lagi sebagai partai kecil pencari suara anak muda, melainkan partai dengan akses istimewa ke pusat kekuasaan nasional.
Dalam pidatonya, Prabowo menyindir dengan gaya ringan namun sarat makna.
“Partai-partai lain harus hati-hati, kita nih… gajah. PSI ini intelnya bagus sekali, bisa membaca isi hati Presiden Republik Indonesia.”
Pernyataan ini membuka dua lapis pesan:
1. PSI dianggap cerdas secara politis, bisa menangkap simbol dan bahasa kekuasaan.
2. Prabowo memberi semacam restu simbolik, bahkan pengakuan terhadap kreativitas dan ketepatan langkah PSI.
Simbol dan Persepsi: Politik Era Baru
Gajah, pantun, perpustakaan di Hambalang, dan perubahan nama partai semua ini menyatu dalam satu panggung komunikasi politik gaya baru: visual, emosional, dan simbolik.
Jika sebelumnya PSI dikenal dengan narasi progresif-liberal, kini partai itu tampak bertransformasi menjadi partai nasional-populis, memanfaatkan simbol-simbol kekuasaan dan kedekatan dengan keluarga presiden untuk membangun legitimasi.
Kesimpulan: Politik Tak Lagi Kaku
Dalam dunia politik Indonesia yang makin cair dan simbolik, pantun dan logo pun bisa jadi alat diplomasi.
Prabowo dengan caranya yang luwes dan penuh simbol menunjukkan bahwa kekuasaan tak selalu dibicarakan dengan bahasa kera.
Sementara PSI, lewat Kaesang, membuktikan bahwa membaca selera simbolik pemimpin adalah seni yang tak kalah penting dari strategi elektoral.
PSI mungkin baru dalam usia, tapi dari cara mereka memposisikan diri di hadapan Prabowo, mereka terlihat sudah paham betul cara bermain dalam arena politik Indonesia hari ini.




