TOBAGOES.COM/ Bangka Selatan – BPI KPNPA RI. desak keras Dugaan penguasaan lahan cetak sawah oleh mafia perkebunan sawit di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan.
Ketua Umum BPI KPNPA RI, Tb. Rahmad Sukendar, meminta Kejaksaan Agung segera turun tangan melakukan penyelidikan.
Menurutnya, ada indikasi kuat sekitar 500 hektare lahan cetak sawah kini dikuasai oleh kelompok tertentu yang diduga terhubung dengan mafia tanah.
Lebih mengejutkan lagi, muncul dugaan bahwa pemilik perkebunan sawit tersebut adalah anggota DPR RI berinisial RT, asal Dapil Bangka Belitung.
“Pemerintah jangan kalah dengan mafia tanah. Ini lahan negara untuk sawah rakyat, bukan untuk sawit pribadi,” tegas Rahmad, Selasa (19/8/2025).
Rahmad menyebut laporan masyarakat yang masuk ke BPI KPNPA RI sudah cukup jelas. Warga mengaku resah karena sawah mereka terancam hilang.
Ia menambahkan, kebun sawit yang berdiri di kawasan itu pun disebut-sebut belum memiliki izin resmi dari pemerintah.
“Kalau benar tidak berizin, harus segera ditindak. Negara jangan tunduk pada mafia,” lanjutnya.
Di lapangan, warga mengaku heran melihat sikap diam Pemkab Bangka Selatan. Mereka menduga hal itu bukan karena ketidaktahuan, melainkan tekanan politik.
Yanto (nama samaran), warga Toboali, blak-blakan menyebut RT sebagai tokoh dominan yang punya kendali di internal partai penguasa.
“Saya tahu Reza Herdavid itu bupatinya, tapi RT itu atasan politiknya. Wajar kalau Reza diam,” ujar Yanto kepada Asatu Online.
Yanto menambahkan, kekuatan RT bukan hanya di politik. Ia menilai jaringan ekonomi sang legislator juga sangat kuat.
“Di Bakam katanya ratusan hektare kebun sawit milik RT. Dulu pernah ribut karena belum ada izin, tapi sekarang katanya sudah beres semua,” ungkapnya.
Isu alih fungsi lahan ini makin ramai setelah warga Desa Rias mengeluhkan keberadaan kebun sawit di hulu Bendungan Mentukul.
Dodi (nama samaran), petani yang lahannya berbatasan dengan kebun sawit, menyebut pemiliknya adalah RT.
“Dulu itu lahan sawah program pemerintah. Sekarang jadi sawit. Kami dengar punya Pak RT,” kata Dodi.
Warga pun makin kesulitan air. Sawah mengering saat musim kemarau, sementara kebun sawit tetap hijau.
“Air habis di atas. Sawit subur, sawah kami kering,” keluh Sumiati (nama samaran).




