Ketua Umum Badan Peneliti Independen & Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), Rahmad Sukendar, angkat suara terkait kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya.
Ketua Umum Badan Peneliti Independen & Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), Rahmad Sukendar, angkat suara terkait kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya.
Kupang, toBagoes.com – Ketua Umum Badan Peneliti Independen & Pengawas Anggaran Republik Indonesia (BPI KPNPA RI), Rahmad Sukendar, angkat suara terkait kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh seniornya.

Dalam kunjungan kerjanya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rahmad Sukendar menyampaikan pernyataan tegas kepada awak media saat ditemui di Hotel Aston Kupang, Kamis (7/8).

Rahmad Sukendar meminta Panglima Kodam IX/Udayana segera memerintahkan Polisi Militer untuk menindak tegas para pelaku kekerasan terhadap Prada Lucky.

BACA JUGA  Polres Sragen Bongkar Jaringan Sindikat Uang Palsu

“Pelaku harus dihukum berat, bila perlu dihukum mati agar tidak ada lagi korban jiwa akibat kekerasan fisik di lingkungan TNI,” tegas Rahmad.

Prada Lucky sebelumnya menjalani perawatan intensif selama tiga hari di ruang ICU RSUD Aeramo, Kecamatan Aesesa, sebelum dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (6/8).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban sempat mengalami tindakan kekerasan di barak militer. Ia juga mengaku kepada dokter di ruang radiologi bahwa dirinya dipukuli oleh seniornya.

BACA JUGA  Rahmad Sukendar: “Saya Yakin Polda Banten Bertindak Sesuai Prosedur, Jangan Politisasi Kasus Ini”

“Dia sempat berkata kepada dokter bahwa ia dipukuli oleh seniornya di barak,” jelas Rahmad.

Ayah korban, Serma Cristian Namo, tak bisa menyembunyikan amarah dan kesedihannya. Ia menuntut agar para pelaku dipecat dari TNI AD dan dijatuhi hukuman mati.

“Saya minta keadilan ditegakkan karena ini menyangkut nyawa. Saya akan tuntut terus agar para pelaku dihukum mati. Saya pakai jalur hak asasi manusia, bahkan nyawa saya jadi taruhannya,” ucap Cristian dengan penuh emosi.

BACA JUGA  Desak Pemerintah Segera Akhiri Polemik Empat Pulau, Rahmad Sukendar: Itu Hak Aceh, Patuhi Perjanjian Helsinki

Ia juga memperingatkan bahwa bila hukum gagal menjerat para pelaku, ia akan menempuh jalan sendiri.

“Kalau tidak ada keadilan, saya akan gali lagi kuburan anak saya dan bawa ke orang-orang yang paling bertanggung jawab,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Rahmad Sukendar menegaskan bahwa BPI KPNPA RI akan mengawal kasus ini hingga tuntas.

BACA JUGA  Ketua Umum BPI Mendesak APH Tuntaskan Tunggakan Pajak Rp13,98 Miliar di Lingga

“Kami akan pastikan tidak ada lagi kekerasan serupa terjadi di tubuh TNI. Negara harus hadir dan tegas dalam menindak pelaku,” pungkasnya.