spot_img

Aliansi Mendesak Presiden Copot Menteri Agama, Bentuk Satgas Anti-Intoleran

TOBAGOES.COM/Jakarta –  Aliansi Desak Presiden Copot Menteri Agama, Rentetan aksi intoleransi kembali mengguncang sejumlah wilayah di Indonesia. Pasca insiden di Indragiri Hulu, Cidahu Sukabumi, Depok, dan Batam, kini serangan terhadap umat Kristen kembali terjadi di Padang Sarai, Sumatera Barat dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Kediri, Jawa Timur. Kejadian tersebut memicu keprihatinan luas dari berbagai elemen masyarakat.

Aliansi Masyarakat Anti Intoleran Indonesia yang terdiri dari tokoh lintas agama, aktivis HAM, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil menyampaikan pernyataan tegas dan tuntutan terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar segera mengambil langkah konkret dalam menangani krisis intoleransi yang makin mengkhawatirkan.

BACA JUGA  Bandung Bersih Preman: 153 Orang Digulung Polisi

“Negara tidak boleh kalah dengan kelompok intoleran. Aparat wajib hadir untuk melindungi hak beragama seluruh warga negara tanpa terkecuali,” tegas Lamsiang Sitompul, Ketua Umum Horas Bangso Batak (HBB), mewakili aliansi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/8).

Dalam pernyataannya, Aliansi menyebut tindakan kekerasan dan pelarangan ibadah terhadap umat Kristen yang sedang beribadah di rumah, ruko, maupun tempat non-gereja, melanggar konstitusi dan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Aliansi merujuk Pasal 28E ayat (1) dan Pasal 29 ayat (2) UUD 1945, serta Pasal 22 UU HAM dan Pasal 18 Deklarasi Universal HAM yang menjamin kebebasan beragama dan beribadah.

BACA JUGA  Prabowo Panggil Petinggi Negara ke Hambalang, Ini Agenda Pentingnya

Berdasarkan peraturan bersama dua menteri (SKB 2 Menteri), umat Kristen yang beribadah di rumah atau ruko tidak memerlukan izin, kecuali untuk pendirian gereja permanen. Karena itu, pelarangan atau pembubaran ibadah tanpa dasar hukum jelas disebut sebagai tindakan “biadab dan tidak manusiawi”.

Aliansi menyampaikan tujuh tuntutan utama kepada pemerintah, yakni:

Mendesak Presiden Prabowo Subianto mencopot Menteri Agama RI karena dinilai gagal menjaga kerukunan umat beragama.

Mendesak pencopotan Menteri HAM Natalius Pigai, karena dianggap tak mampu melindungi hak-hak warga dari sisi penegakan HAM.

Mendesak Kapolri untuk mencopot Kapolda dan Kapolres yang lalai menjamin kebebasan beragama di wilayah masing-masing.

BACA JUGA  Komisi III DPR Bongkar 14 Terobosan RUU KUHAP: Transparansi, Hak Disabilitas, hingga Restorative Justice Diperkuat

Mendesak Presiden membentuk Satgas Nasional Anti-Intoleransi, sebagai upaya sistematis memberantas gerakan intoleran.

Mendorong pencabutan SKB 2 Menteri dan menggantikannya dengan Perpres tentang jaminan kebebasan beragama serta pembentukan Badan Penjaga Kerukunan Umat Beragama.

Mendesak Presiden turun langsung menemui korban intoleransi, serta memastikan proses pemulihan psikologis korban, terutama anak-anak.

Mendesak penyediaan tim psikolog nasional untuk menangani trauma anak-anak yang menjadi saksi dan korban kekerasan berbasis intoleransi.

Gerakan ini diikuti oleh puluhan tokoh dari berbagai organisasi sipil, di antaranya: Gus Sholeh Mz (Ketum Komunitas Agama Cinta), Oscar Pendong (Ketua Umum GRPB Indonesia), Novalando (Gerakan Perjuangan Masyarakat Pluralisme), Baney Birowo (Indonesia Peduli), Fredi Moses Ulemlem (Praktisi Hukum), dan Albert Timothy (Nyalahkan Indonesia Hebat).

BACA JUGA  Polisi Berhasil Ringkus 5 Buronan Kelas Kakap Sri Lanka di Jakarta Barat

“Kami tidak menentang agama atau keyakinan siapapun, kami hanya menuntut agar konstitusi ditegakkan secara adil. Negara tak boleh tunduk pada tekanan kelompok intoleran,” tegas Gus Sholeh.

Aliansi juga meminta media, akademisi, dan masyarakat sipil untuk terus mengawal isu ini dan menolak normalisasi kekerasan atas nama mayoritas.

BACA JUGA  Rahmad Sukendar: Penambangan Pakai Sianida Harus Dihentikan, Negara Jangan Tunduk pada Oligarki

Indonesia, sebagai negara demokrasi yang menjunjung tinggi pluralisme, diingatkan untuk tidak mundur terhadap tekanan kelompok-kelompok yang merongrong kebebasan beragama. “Tanpa tindakan tegas dari negara, intoleransi akan menjadi bom waktu bagi keutuhan bangsa,” tutup Butje B. Siwu dari Himpunan Warga Gereja Indonesia.

Sumber : Gusoleh Mz
Penulis: Jono Aktivis98

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img