Mambayia Kaul di Pulasan: Ketika Adat Menjaga Keseimbangan, LAN Hadir Mengingatkan Nilai Luhur

Oleh: Syafri Piliang

tobagoes.com – Di sebuah siang yang hangat, tak lama selepas gema Idul Fitri mereda, halaman balai adat Nagari Pulasan kembali hidup. Orang-orang berdatangan, mengenakan pakaian terbaik mereka. Di bawah langit yang bersih, satu per satu dulang tersusun rapi. Tradisi itu kembali digelar, mambayia kaul adat Nagari Pulasan nan salingkuang parik dan saamban tabek.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir perwakilan Bupati Sijunjung yang diwakili oleh Asisten I, Aprizal, M.Si. Selain itu, Kapolres Sijunjung diwakili oleh Kapolsek Tanjung Gadang, IPTU Dedi Syahputra, S.H. Kegiatan ini juga dihadiri langsung oleh Wali Nagari Pulasan, Awardi Dt. Rajo Nan Gadang.

BACA JUGA  20 Anggota TNI Jadi Tersangka Kasus Kematian Prada Lucky

Dalam sambutannya, Asisten I Aprizal, M.Si menyampaikan apresiasi kepada Ketua LAN beserta seluruh pengurus atas komitmen dan peran aktif dalam upaya pemberantasan narkotika, yang merupakan musuh bersama.

Ia juga menilai kehadiran Ketua LAN sebagai putra asli Nagari Pulasan mencerminkan kecintaan yang mendalam terhadap kampung halamannya. Menurutnya, upaya tersebut tentu tidak terlepas dari dukungan Pemerintahan Nagari serta peran ninik mamak yang menjadi pilar penting dalam kehidupan bermasyarakat di Nagari Pulasan.

BACA JUGA  Mampukah Prabowo Jadi Mediator Konflik Global? Indonesia Dianggap Tak Setara!

Selain itu, Aprizal juga berpesan agar tradisi membayar kaul ini tetap dipertahankan dan diwariskan kepada generasi muda, sebagai bagian dari upaya menjaga kearifan lokal sekaligus memperkuat jati diri bangsa dalam menyongsong Indonesia Emas di masa yang akan datang.

Bagi masyarakat di Nagari Tanjung Gadang, Kabupaten Sijunjung, kaul bukan sekadar seremoni. Ia adalah janji yang diwariskan. Janji kepada alam, kepada leluhur, dan kepada sesama. Dalam ungkapan adat yang hidup di tengah masyarakat, “bumi sanang, padi manjadi, jaguang maupiah, anak buah aman santoso, taranak bakambang biak”, sebuah harapan akan keseimbangan hidup yang mesti “dibayar” setahun sekali.

BACA JUGA  Wakil Presiden Pimpin Upacara Pemakaman Istri Wakil Presiden ke 4 Wirahadikusuma

Pembayaran itu diwujudkan dalam bentuk penyembelihan seekor kerbau. Darah yang mengalir bukan hanya simbol pengorbanan, tetapi juga sebagai pengingat, bahwa kesejahteraan tidak datang tanpa ikhtiar dan kebersamaan.
Wali Nagari Pulasan, Awardi Dt. Rajo Nan Gadang, berdiri di tengah masyarakatnya. Ia menyaksikan bagaimana adat masih menjadi simpul yang mengikat. Baginya, kaul adalah cara nagari menjaga harmoni.

“Ini bukan hanya tradisi, tapi pengingat bagi kita semua untuk tetap bersyukur dan menjaga keseimbangan,” kira – kira demikian makna yang hendak disampaikan.

BACA JUGA  Kepanikan Warga Surin Thailand Pasca Perang Dengan Kamboja

Di halaman balai adat itu pula, tradisi makan bajamba digelar. Nasi, lauk-pauk, dan hasil olahan lainnya disusun dalam dulang, lalu dinikmati bersama-sama. Tak ada sekat, tak ada jarak. Semua duduk bersila, berbagi hidangan, berbagi cerita.Namun, siang itu tidak hanya tentang adat.

Di antara kerumunan masyarakat, hadir rombongan dari Lembaga Anti Narkotika (LAN). Kehadiran mereka membawa pesan yang berbeda, namun tetap sejalan yakni tentang menjaga generasi.

Ketua LAN Dharmasraya, Dasriyan Piliang, datang bersama Sekretaris Jenderal Syafri Piliang dan Ketua Divisi Seni Budaya Afrizal Dt. Bandaro Rajo. Mereka tidak sekadar hadir sebagai tamu, tetapi sebagai mitra nagari.
Wali Nagari menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia melihat kehadiran LAN sebagai bagian dari upaya memperkuat nagari, bukan hanya secara adat, tetapi juga secara sosial.

BACA JUGA  Rahmad Sukendar: Copot Kejari Jaksel Jika Tak Berani Eksekusi Silvester!

“Nanti akan kita bicarakan bersama datuk nan 10,” ujar Wali Nagari, merujuk pada para pemangku adat di Pulasan.
Pesan yang dibawa LAN sederhana, tetapi mendesak, bahaya narkotika yang mengintai generasi muda. Di tengah derasnya arus zaman, ancaman itu tidak lagi mengenal batas nagari atau kota.

Di sinilah adat menemukan relevansinya.Di Pulasan, adat bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga benteng masa depan. Ketika masyarakat berkumpul, ketika silaturahmi terjalin, di situlah ruang-ruang edukasi terbuka. Apa yang disampaikan LAN tidak terasa asing, karena disampaikan dalam ruang yang akrab ruang adat, ruang kebersamaan.

BACA JUGA  Rahmad Sukendar Bongkar Masalah SDM Polri: Titipan, Promosi, dan Rotasi Bermasalah!

Kaul pun menjadi lebih dari sekadar ritual.Ia menjelma menjadi pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Antara nilai – nilai yang diwariskan dan tantangan yang harus dihadapi. Di bawah langit Pulasan, di antara dulang – dulang yang tersaji, masyarakat tidak hanya “membayar” janji kepada alam, tetapi juga memperbarui komitmen untuk menjaga anak kemenakan mereka.Di nagari itu, adat dan kesadaran berjalan beriringan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img