Duka mendalam menyelimuti keluarga Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang meninggal dunia pada Rabu (6/8/2025) setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari di ruang ICU RSUD Aeramo, Kecamatan Aesesa.
Duka mendalam menyelimuti keluarga Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang meninggal dunia pada Rabu (6/8/2025) setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari di ruang ICU RSUD Aeramo, Kecamatan Aesesa.
toBagoes.com – Duka mendalam menyelimuti keluarga Prada Lucky Chepril Saputra Namo (23), prajurit TNI AD yang meninggal dunia pada Rabu (6/8/2025) setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari di ruang ICU RSUD Aeramo, Kecamatan Aesesa.

Dugaan kuat, Prada Lucky Chepril Saputra Namo menjadi korban penganiayaan oleh seniornya di barak militer tempat ia bertugas.

Sang ayah, Sersan Mayor Cristian Namo, tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Air mata menetes saat ia mengungkapkan amarah dan tuntutannya atas kematian anaknya yang tragis.

BACA JUGA  Doa dan Ucapan Selamat Ulang Tahun ke-56 untuk Ketum BPI KPNPA RI Tb. Rahmad Sukendar

“Anak saya Prada Lucky Chepril Saputra dianiaya seniornya. Saya akan kejar pelakunya ke mana pun. Anak saya sudah tidak ada, saya tuntut keadilan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Informasi yang dihimpun dari pihak rumah sakit menyebutkan bahwa Prada Lucky Chepril Saputra Namo sempat menyampaikan kepada dokter di ruang radiologi bahwa ia dipukuli oleh seniornya di barak.

Pengakuan itu menjadi petunjuk awal bahwa kekerasan internal di lingkungan militer diduga menjadi penyebab luka berat yang dialami korban.

BACA JUGA  TNI AD Periksa 16 Prajurit, 4 Tersangka Kasus Kematian Prada Lucky

Tak hanya kehilangan, Serma Cristian juga menyuarakan desakan agar para pelaku diadili secara tegas, termasuk pemecatan dari institusi militer dan hukuman maksimal atas perbuatannya.

“Saya minta mereka dipecat dari TNI dan dihukum mati. Ini soal nyawa manusia. Saya tidak akan diam,” tegasnya.

Kemarahan sang ayah memuncak saat ia menyatakan siap menempuh segala jalur hukum, bahkan hingga ranah hak asasi manusia (HAM), demi menuntut pertanggungjawaban.

BACA JUGA  Latihan Minggu Militer, Lanud Sultan Hasanuddin Bentuk Prajurit TNI AU yang Tangguh

“Saya tempuh jalur HAM. Kalau hukum tidak bisa, nyawa saya jadi taruhannya,” ucap Cristian dengan nada penuh amarah.

Dalam luapan emosinya, Cristian bahkan menyampaikan ancaman akan mengambil tindakan sendiri jika keadilan tak kunjung ditegakkan.

“Kalau tidak ada keadilan, saya akan gali kembali makam anak saya dan bawa ke hadapan orang-orang yang paling bertanggung jawab.”

Catatan

Kasus ini mencerminkan urgensi evaluasi sistemik terhadap kekerasan di lingkungan militer serta pentingnya perlindungan terhadap hak-hak prajurit muda. Keadilan bagi Prada Lucky adalah ujian bagi institusi penegak hukum dan militer di Indonesia.