Jakarta, tobagoes.com – Pakar militer dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie, melontarkan peringatan keras terkait kondisi demokrasi di Indonesia. Ia mengaku menjadi sasaran serangan terkoordinasi di ruang digital yang diduga dilakukan oleh akun otomatis atau “robot”.
Melalui akun media sosial X, Jumat (3/4/2026), Connie menyebut serangan tersebut bukan berasal dari buzzer biasa, melainkan sistem otomatis yang bekerja cepat dan masif. Ia bahkan mengaku dilabeli sebagai “profesor hoaks” oleh akun-akun tersebut.
“Aku mau ngasih tahu, yang menyerang aku bukan buzzer biasa. Tapi sudah robot mesin, cepat sekali dengan men-tag aku seakan aku profesor hoaks,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Connie mengaku telah melakukan penelusuran terhadap sejumlah akun yang menyerangnya. Ia menemukan indikasi bahwa sebagian besar akun menggunakan sistem otomatis, bahkan mengklaim adanya dugaan afiliasi tertentu.
“Saya sudah mengecek IP dan nomor teleponnya, tapi rata-rata mereka sudah pakai robot. Afiliasinya ke istana juga sudah saya deteksi,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Connie juga menyoroti pentingnya keterbukaan terhadap kritik dalam sistem demokrasi. Ia menegaskan bahwa sebagai kepala negara yang dipilih rakyat, Prabowo Subianto seharusnya tidak anti terhadap masukan, termasuk dari kalangan akademisi.
Ia pun meminta Presiden untuk mengevaluasi pihak-pihak di lingkar kekuasaan apabila benar terjadi praktik serangan digital terhadap pihak yang menyampaikan kritik.
Lebih jauh, Connie mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum dan demokrasi yang harus menjamin kebebasan berpendapat.
“Jangan sampai terjadi gerakan ‘no king’ karena bapak nggak mau dikoreksi,” tegasnya.
Pernyataan ini langsung memicu perhatian publik dan menjadi perdebatan hangat di media sosial, terutama terkait isu kebebasan berpendapat dan etika kekuasaan di era digital.




