Isu Gender Terabaikan di Tahun Pertama Pemerintahan Prabowo-Gibran

Jakarta,tobagoes.com — Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai belum memberikan perhatian optimal terhadap isu gender dan perlindungan perempuan selama satu tahun kepemimpinannya.

Pandangan ini disampaikan oleh analis gender Laboratorium Indonesia 2045 (Lab 45), Ratu Dyah Ayu Gendiswardani, dalam acara Media Briefing bertajuk “Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Hotel Morrissey, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/10/2025).

BACA JUGA  Mas Sugito: Wali Kota Madiun Layak Diapresiasi, Hasil Kinerja Nyata Pro-Rakyat

“Kemajuan sebuah negara tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari seberapa besar komitmen negara tersebut melindungi seluruh masyarakatnya, termasuk perempuan,” ujar Gendis.

Gendis menjelaskan, meski isu perempuan tercantum dalam Asta Cita  visi pembangunan pemerintahan Prabowo, namun kasus kekerasan terhadap perempuan justru terus meningkat.

“Selama 12 tahun terakhir, tren kekerasan terhadap perempuan terus naik. Bahkan di tahun 2025, kasusnya semakin banyak,” ungkapnya.

BACA JUGA  Rahmad Sukendar Desak Prabowo Copot Menteri UMKM, KPK Diminta Usut Dugaan Penyalahgunaan Wewenang

Berdasarkan data yang dihimpun Lab 45, wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah mencatat angka kekerasan tertinggi. Bentuk kekerasan yang paling banyak terjadi berasal dari orang terdekat korban, seperti suami dan pacar.

Gendis menyoroti target Presiden Prabowo untuk menurunkan angka kekerasan seksual hingga 3,19 persen. Namun menurutnya, tidak ada kebijakan signifikan yang mendukung pencapaian target tersebut.

“Awal 2025, Presiden memang mengeluarkan Instruksi Presiden tentang efisiensi belanja kementerian dan lembaga. Namun, pemangkasan anggaran justru berdampak besar pada K/L yang berhubungan dengan perlindungan perempuan,” jelasnya.

Pemangkasan anggaran tersebut disebut berdampak pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komnas HAM, dan Komnas Perempuan.

Gendis menegaskan pentingnya peningkatan anggaran dan perhatian serius dari pemerintah terhadap lembaga-lembaga yang menangani isu gender dan kekerasan seksual.

BACA JUGA  Teddy Indra Wijaya, Arsitek Komunikasi Cerdas di Pemerintahan Prabowo

“Kalau tidak, hal ini akan mengancam kemampuan lembaga-lembaga tersebut dalam melakukan perlindungan, advokasi, dan rehabilitasi terhadap korban kekerasan, khususnya perempuan,” tegasnya.

Ia berharap, Presiden Prabowo dapat menunjukkan komitmen nyata terhadap keadilan dan kesetaraan gender, dengan memastikan kebijakan pemerintah benar-benar berpihak kepada kelompok rentan.

Editor:Melida S

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img